RAPAT: Hal Vital dalam
Organisasi
Oleh: Mohammad Ali*
Adanya suatu
organisasi yang efektif dan efisien adalah mutlak diperlukan bagi setiap santri
dan pesantren, sebab titik lemah islam dan pesantren adalah pada organisasinya.
Kelemahan dalam organisasi menunjukkan kelemahan pada sumber daya
manusianya(SDM). Ali bin Abi Thalib telah mengingatkan, “ kebenaran yang tidak
terorganisir dengan baik akan dikalahkan dengan kebetilan yang terorganisir”.
Santri Nurul jadid harus mampu aktif dalam organisasi. Karena melalui media ini
kita dapat mewujudkan sebuah tujuan bersama akan lebih mudah diraih dengan
maksimal. Organisasi adalah pola hubungan yang saling terkait antara satu
bagian dengan bagian yang lainnya, yang lebih mengedepankan komunikasi dan
koordinasi dalam menjalankan aktifitasnya sehingga dapat mencapai tujuan
bersama.
Organisasi adalah
merupakan hal yang vital dalam suatu pondok, maju tidaknya suatu pondok
tegantung dari organisasi yang berkembang di dalamnya. Pada saat sekarang ini
dalam pondok Pesantren Nurul Jadid terdapat organisasi yang di dikelola atau
pusatnya adalah Biro Pengembangan dan
pemberdayaan Masyarakat yang merupakan induk dari organisasi-organisasi yang
ada di dalam pondok baik organisasi bagi santri yaitu Forum Komunikasi Santri
maupun alumni ( P4NJ).
Pada hari kamis
dan jum’at pada tanggal 8-9 November 2011 yang dilaksanakan di Aula Madrasah
Aliyah Nurul Jadid (MANJ). Biro Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat mengadakan
suatu Pelatihan yang dikemas dalam Pelatihan “Manajemen Rapat”, dengan
diadakannya pelatihan ini dikarenakan melihat kekurang profisionalan Ketua Forum
Komunikasi Santri (FKS ) dalam mengatur jalannya rapat juga dalam pengambilan
keputusan hasil rapat. maka Devisi Bakat dan Minat mengedakan suatu pelatihan yang
bertujuan bagaimana Ketua FKS mampu
mengatur jalannya rapat dan dapat menghasilkan keputusan yang maksimal.
Dalam mengkader
santri menjadi organisatoris yang professional perlu diadakannya suatu
pelatiyang dalam mengasah mental dan juga intelektualnya,Ali Wafa selaku
Deriktur BPPM. Memberikan latar belakang
di adakannya pelatihan tersebut “ karena banyaknya ketua Forum Komunikasi
Santri (FKS) yang kurang paham terhadap cara memimpin rapat , maka kami
mengadakan pelatihan ini, dan rapat merupakan hal yang urjen dalam organisasi lebih-lebih
dalam mengambil keputusan” ujar
Hal ini
merupakan hal yang baik dalam mengkader santri-santri agar professional dalam
mengatur kekondusifan suatu rapat, Pemimpin rapat yang baik harus dilatih dan
tidak hanya mengandalkan teori saja tetapi praktek merupakan hal yang lebih baik
dalam memajukan suatu organisasi.
Dengan adanya
pelatihan Manajemen Rapat, bertujuan bagaimana seorang leader dapat memimpin
anak buahnya agar memahami dan mengerti tentang fungsi dari suatu rapat tersebut.
“Menjadi pemimpin yang baik, berfikir rasional, dan dapat mengambil keputusan
secara baik dan efektif dan memberikan pemehaman tentang bagaimana mengatur
suatu rapat dan bagai mana dalam mengambil keputusan yang baik dan bagaimana
seorang pemimpin juga paham terhadap
mekanisme dalam rapat seperti adminitrasi, apa yang perlu dipersiapkan dan
bagaimana cara memutuskan suatu rapat. Imbuhnya
Dalam pelatihan menejeman
rapat ini bagaimana seorang ketua tau dan paham tentang suatu rapat dan
bagaimana cara mengatur forum agar kondusif, tidak hanya dijadikan teori saja
tetapi bagai mana ketua FKS mampu menerapkannya dalam organisanya
masing-masing.”Bagaimana anggota itu paham dan tau tentang rapat dan tau
bedanya rapat dengan seminar, rapat dengan diskusi, bisai dan lainnya” imbuh .
Dalam pelatihan ini banyak
hal yang dapat melengkapi khazanah pengetahun mengenai suatu rapat dan terpenting disini adalah bagaimana seorang
pemimpin dapat mengimplementasikan apa yang di peroleh dari pelatihan Manajemen
Rapat ini dalam suatu organisasi masing-masing.
Melihat peserta yang
mengikutinya sesuai dengan yang di inginkan meski tidak 100%, dengan banyaknya peserta yang ikut
menunjukkan bahwa ketua-ketua FKS sangat antusias merespon positif dalam
menambah khazanah keilmun dan mengasah intelektualnya. “ sudah cukup baik dalam
pelaksanaan pelatihan ini,
peserta yang hadir 90% hadir semua hanya dari sisi sasaran kurang begitu kena,
kan yang kita inginkan ketua FKSnya tapi yang hadir ketua 70% dan sekretaris
20%,. Dalam hal ini anggota sangat antusias dalam mendukung lancarnya kegiatan
yang merupakan pembekalan bagi para peserta umumnya dan pada ketua FKS
khususnya, dan mengenai tindak lanjutnya
dalam FKSnya masing-masing karena nanti waktu rapat akan ada anggota BPPM yang
akan mengontrol dan mengarahkan jalannya rapat, dan apabila ada yang tidak
sesuai dengan prosedur rapat maka akan di arahkan oleh pengurus bagian yang
mengontrol, tambahnya.
Selanjutnya Harisun Selaku
Ketua Panitia dalam Pelatihan Manajemen Rapat,memberikan tanggapan mengenai
pelatihan Manajemen rapat ini, menurutnya kebanyakan dalam mengadakan suatu
rapat yang sering kita ketemui adalah factor persiapan dalam surat-menyurat dan
persiapan dalam rapat agar efektif dan kurang fahamnya temen-temen ketua FKS
mengenai pentingnya suatu rapat.
Dengan diadakannya pelatihan
ini bertujuan memberikan pemahaman bagaimana cara memimpin rapat yang baik dan
bagai mana cara mengambil keputusan dalam suatu rapat dan termasuk bagaimana
prosebur adminitrasi yang baik.
Dalam menyukseskan suatu
kegiatan tidak akan terlepas dari suatu kendala, Menurut Harisun dalam pelaksanaan
ini tidak terlepas dari suatu kendala yang dialami oleh panitia, seperti
merumuskan konsep acara, dana belum turun, panitia mengandalkan kontribusi dari
pesrta pelatihan yaitu Rp 25.000 per FKS, kesolidan panitia dalam acara, dan
terkait dalam surat-menyurat juga,sehingga ada yang tidak mendapatkan surat
pemberi tahuan mengenai kegiatan ini tersebut.
Pelatihan ini merupakan hal
perdana BPPM dalam memperhatikan kwalitas organisasi FKS ini ,sehingga
ketua-ketua FKS sangat mengapresiasi pelatihan tersebut secara positif. “
peserta sangat antusias sekali meskipun masih banyak temen-temen yang kurang
sadar dalam memahami pentingnya suatu organisasi” tambahnya. Selain itu Harisun
selaku ketua panitia, mengharapkan peserta pelatihan ini dapat memahami
materi-materi yang dia ikuti selama dua hari dan dapat mengimplementasikan
dalam FKSnya masing-masing.
Lebih lanjut tanggapan dari
peserta pelatihan yang sangat merespon positif tentang diadakannya pelatihan
tersebut. Menurut Syafiq selaku delegasi dari FKS sumenep mengatakan “menurut
saya sangat senang diadakannya pelatihan ini karena dengan diadakannya
pelatihan ini kita dapat memahami tentang menejeman rapat, tidak hanya teori
saja, akan tetapi dari segi prakteknya saya juga memahami,kan yang terjadi pada
sebelumnya temen-temen hanya rapat dan rapat tetapi tidak tau tentang apa
pentingnya rapat dalam suatu organisasi. harapan saya kepada BPPM terutama
bagian pengembangan bakat dan minat, bagaimana pelatihan yang di adakan tidak hanya ini tetapi pelatihan-pelatihan yang lain seperti
adminitrasi dan lain sebagainya itu perlu agar kita menjadi organisator yang
profisional yang tau dan paham tentang ke urjenan rapat dalam organisasi.
Lanjut Mohammad Ali selaku
ketua FKS-Sapudi, menurutnya sangat luarbiasa dengan di adakannya pelatihan ini,
karena baru sekarang ini diadakan pelatihan seperti ini, berarti BPPM sangat
mempethatikan dan mengayomi Organisasi-organisasi yang ada dinaungannya, dan
ini merupakan pencanangan dari salah satu pusaka yang diwariskan pendiri pondok
ini yakni kesadaran berorganisasi yang harus tertanam dalam diri seorang
santri.
Harapan saya, bagaimana hal
yang lebih dari ini dapat terjadi dan tidak hanya ini saja, karena organisasi
sangatlah penting dalam diri kita lebih-lebih dalam masyarakat, karena ini
merupakan bekal kita nanti apabila telah kembali pada masyarakat, karena sangat
beda antara santri yang ikut organisasi dan yang tidak ikut organisasi, baik
dari tutur kata lebih-lebih dalam interaksi social, saya teringat dauh pendiri,
“saya tidak mau mencetak kiai dan orang yang berintelktual, tetapi saya mau
mencetak santri yang aktif dalam berdakwah, lebih baik mempunyai santri
kondiktur Bus tetapi dia aktif berdakwah, dari pada seorang kiai tapi pasif
dalam berdakwah”.
Sebagai seorang santri kita
harus mengamalkan pusaka yang diwariskan pendiri pondok ini (KH.ZAINI MUN’IM)
yaitu Trilogi Santri dan Panca Kesadaran Santri, karena dalam pusaka itu
terdapat nilai-nilai yang membawa kita dalam kebaikan dan keselamatan dunia dan akhirat.
“janganlah
melihat masalalu dengan penyesalan, dan jangan pula melihat masa depan dengan
ketakutan, tetapi lihatlah realitas sosial ini dengan penuh kesadaran”
*Penulis adalah Santri Aktif PP. Nurul Jadid
Dan Penggiat Kajian Pojok Surau (KKPS)
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking