IMPLEMENTASI ASWAJA DALAM PERGERAKAN
“hendaknyta organisasi yang
akan dibentuk itu benar-benar dapat diandalkan sebagai kader NU, dan menjadi
mahasiswa yang berprinsip ilmu untuk diamalkan begi kepentingan rakyat, bukan
untuk kepentingan sendiri” (KH. Dr. Idham Cholid)
Pergerakan mahasiswa ialam Indonesia (PMII) merupakan salah satu
eleman mahasiswa yang terus bercita-cita mewujudkan indonesia kedepan menjadi
lebih baik. Pada awalnya berdirinya PMII sepenuhnya berada dibawah naungan NU,
PMII terikat dengan segala garis kebijakan partai induknya, kemudian pada
kongres tahun 1973 di ciloto, jawa barat, diwujudkanlah manifestasi independen
PMII.
Namun betapapun PMII mandiri, ideology PMII tidak terlepas dari
faham Ahlussunnah Waljama’ah yang merupakan cirri khas NU. Ini berarti secara
cultural-ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dipisahkan. Ahlussunanah
waljamaah merupakan benang merah antara PMII dan NU. Dengan ASWAJA PMII
menbedakan diri dengan organisasi lain. Keterpisahan antara PMII dan Nu pada perkembangan
terakhir ini lebih tampak hanya secara organisatoris formal saja. Sebab
keterikatan moral dan kesamaan beckground pada hakikat keduanya susah untuk
direnggangkan.
Dengan kemandiriannya PMII mempunyai nilai dasar
pergerakan yang deijadikan landasan pergerakan dalam ranah social, ekonomi,
budaya, dan politik. Adapun nilai yang dimaksud adalah tauhid (keyakinan
transedental) yang merupakan sumber nilai yang mencakup pola hubungan
antara manusia dengan Allah (Hablu min
allah), hubungan manusia dengan sesame manusia ( Hablu min al-nas), dan hubungan manusia dengan Alam ( Hablu min al-alam).
PMII dengan penuh kesadaran bahwa menyeimbangkan
ketiga pola hubungan ini merupakan totalitas keislaman yang landasannya adalah
wahyu Allah adalah Al Qur’an dan hadis Nabi. Dalam memahami dan mewujudkan
keyakinan itu PMII telah memilih Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) sebagai
manhajul Fikr dan manhajul harokah, selaiin sebagai bagian dari bangsa
Indonesia, maka PMII menyadari Pancasila adalah falsafah hidup bangsa, yang
penghayatannya dan pengamalannya seiring dengan implementasi dari nilai-nilai
ASWAJA: tawazun, tawassut, tasamuh, dan
ta’adul.
Namun sayangnya, bebrapa nilai Aswaja sering disalah
pahami atau dimanipulasi oleh kalangan-kalangan tertentu dalam NU maupun PMII
sendiri yang memunculkan distorsi dan penggerogotan internal atas kekuatan
organisasi dan kader. Maka dari itu perlu pemaknaan atas intisari nilai-nilai
Aswaja dengan mencari dimensi-dimensi kritis dari Aswaja Ke-NU-an dalam
menawarkan alternatif terhadap mertodologi pemikiran keislaman baik kalangan
modernis maupun neo-modernis.
Dengan demikian, kita tidak cukup hanya menguasai
khazanah keislaman klasik, tetapi juga mempelajari secara aktif perkembangan
pemikiran kontemporer. Penguasaan atas duan khazanah ini akan memungkinkannya
melahirkan suatu kombinasi respons yang actual terhadap perubahan, tanpa
kehilangan kemendalaman atas warisan klasik yang menjadi cirri khas sebagai
seorang nahdliyy.
Dengan demikian, sangatlah penting bagi kita untuk mengimplementasikan
dari kombinasi respon yang actual terhadap perubahan. Pergerakan mahasiswa
islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi gerakan mahasiswa, menganggap bahwa
kader-kadernya seharusnya dapat memahami bahkan membaca kampus mereka sendiri.
Penting bagi mahasiswa sebagai Agen perubahan dalam
ranah lingkungannya (masyarakat kampus) serta masyarakat sipil untukmemahami
pola karakter dan tingkahlaku mereka, guna mengadvokasi dalam segala bentuk
kebijakan yang tidak berlandaskan atas nilai keadilan bagi semua kalangan.
Maka dari itu PMII sebagai organisasi gerakan intra
kampus yang tidak hanya melakukan poengawalan terhadap persoalan luar kampus,
akan tetapi sebagai organisasi yang menjadi afiliasi kaum mahasiswa, maka
menjadi sebuah keniscayaan untuk melakukan pengawalan terhadap kebijakan
pemimpin kampus yang tidak memihak terhadap mahasiswa, salah satu strateginya
adalah mampu memegang pos-pos penting dalam organisasi kampus.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking