Woensdag 29 Mei 2013

IMPLEMENTASI ASWAJA DALAM PERGERAKAN

“hendaknyta organisasi yang akan dibentuk itu benar-benar dapat diandalkan sebagai kader NU, dan menjadi mahasiswa yang berprinsip ilmu untuk diamalkan begi kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan sendiri” (KH. Dr. Idham Cholid)
Pergerakan mahasiswa ialam Indonesia (PMII) merupakan salah satu eleman mahasiswa yang terus bercita-cita mewujudkan indonesia kedepan menjadi lebih baik. Pada awalnya berdirinya PMII sepenuhnya berada dibawah naungan NU, PMII terikat dengan segala garis kebijakan partai induknya, kemudian pada kongres tahun 1973 di ciloto, jawa barat, diwujudkanlah manifestasi independen PMII.
Namun betapapun PMII mandiri, ideology PMII tidak terlepas dari faham Ahlussunnah Waljama’ah yang merupakan cirri khas NU. Ini berarti secara cultural-ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dipisahkan. Ahlussunanah waljamaah merupakan benang merah antara PMII dan NU. Dengan ASWAJA PMII menbedakan diri dengan organisasi lain. Keterpisahan antara PMII dan Nu pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya secara organisatoris formal saja. Sebab keterikatan moral dan kesamaan beckground pada hakikat keduanya susah untuk direnggangkan.
Dengan kemandiriannya PMII mempunyai nilai dasar pergerakan yang deijadikan landasan pergerakan dalam ranah social, ekonomi, budaya, dan politik. Adapun nilai yang dimaksud adalah  tauhid (keyakinan transedental) yang merupakan sumber nilai yang mencakup pola hubungan antara manusia dengan Allah (Hablu min allah), hubungan manusia dengan sesame manusia ( Hablu min al-nas), dan hubungan manusia dengan Alam ( Hablu min al-alam).
PMII dengan penuh kesadaran bahwa menyeimbangkan ketiga pola hubungan ini merupakan totalitas keislaman yang landasannya adalah wahyu Allah adalah Al Qur’an dan hadis Nabi. Dalam memahami dan mewujudkan keyakinan itu PMII telah memilih Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) sebagai manhajul Fikr dan manhajul harokah, selaiin sebagai bagian dari bangsa Indonesia, maka PMII menyadari Pancasila adalah falsafah hidup bangsa, yang penghayatannya dan pengamalannya seiring dengan implementasi dari nilai-nilai ASWAJA: tawazun, tawassut, tasamuh, dan ta’adul.
Namun sayangnya, bebrapa nilai Aswaja sering disalah pahami atau dimanipulasi oleh kalangan-kalangan tertentu dalam NU maupun PMII sendiri yang memunculkan distorsi dan penggerogotan internal atas kekuatan organisasi dan kader. Maka dari itu perlu pemaknaan atas intisari nilai-nilai Aswaja dengan mencari dimensi-dimensi kritis dari Aswaja Ke-NU-an dalam menawarkan alternatif terhadap mertodologi pemikiran keislaman baik kalangan modernis maupun neo-modernis.
Dengan demikian, kita tidak cukup hanya menguasai khazanah keislaman klasik, tetapi juga mempelajari secara aktif perkembangan pemikiran kontemporer. Penguasaan atas duan khazanah ini akan memungkinkannya melahirkan suatu kombinasi respons yang actual terhadap perubahan, tanpa kehilangan kemendalaman atas warisan klasik yang menjadi cirri khas sebagai seorang nahdliyy.
Dengan demikian, sangatlah penting bagi kita untuk mengimplementasikan dari kombinasi respon yang actual terhadap perubahan. Pergerakan mahasiswa islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi gerakan mahasiswa, menganggap bahwa kader-kadernya seharusnya dapat memahami bahkan membaca kampus mereka sendiri.
Penting bagi mahasiswa sebagai Agen perubahan dalam ranah lingkungannya (masyarakat kampus) serta masyarakat sipil untukmemahami pola karakter dan tingkahlaku mereka, guna mengadvokasi dalam segala bentuk kebijakan yang tidak berlandaskan atas nilai keadilan bagi semua kalangan.
Maka dari itu PMII sebagai organisasi gerakan intra kampus yang tidak hanya melakukan poengawalan terhadap persoalan luar kampus, akan tetapi sebagai organisasi yang menjadi afiliasi kaum mahasiswa, maka menjadi sebuah keniscayaan untuk melakukan pengawalan terhadap kebijakan pemimpin kampus yang tidak memihak terhadap mahasiswa, salah satu strateginya adalah mampu memegang pos-pos penting dalam organisasi kampus.
 









Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking