Woensdag 29 Mei 2013

KEKURANGGAN BUKANLAH  SUATU KENISCAYAAN DALAM HIDUP

Suatu kekurang yang terdapat dalam diri seseorang bukanlah suatu keniscayaan dalam menunjukkan suatu potensi yang terdapat dalam diri seseorang, seperti  yang  tersurat  dalam koran kompas 12/04/2012, pemanfaatan video call sebagai sosuli untuk  alat komunikasi bagi seorang siswa tunawicara, agar seorang  siswa tunawicara dapat berkomunikasi  menggunakan bahasa isyarat dengan teman atau gurunyamelalui telpon seluler  yang dilengkapi dengan fasilitas Video Call,  untuk mempermudah peserta didik dalam berinteraksi dengan kawan sekelas atau sesama tunawicara yang lain.
Banyak di temui dalam lingkungan kita, seorang tunawicara didiskriminasikan karena kekuranggannya dalam berinteraktif dengan masyarakat disekitarnya, ini merupakan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seseorang sebagai bangsa yang berpegang teguh terhadap nilai-nilai luhur pancasila. Kita tidaklah harus mementingkan diri sendiri dalam menjalani hidup ini,  bagaimana seorang bangsa mampun saling menghargai dan menghormati terhadap sesama bangsa, agar terjadi kesejahteraan terhadap bangsa sebagaimana yang diharapkan oleh funding father  bangsa ini.
Asas pancasila hanya dijadikan pusaka saja, tetapi bangsa kita tidak mampu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Kalau kita melihat kehidupan desawarsa ini, paradigma pemikiran bangsa telah terkontaminasi oleh kaum modern, sehingga lupa akan nilai luhur suatu bangsa.  Yang terjadi timur leste, menurut analisis penulis hal itu terjadi karena seorang pemimpin mendiskriminasikan provensi tersebut, sehingga terjadi gejolak untuk memisahkan diri dari negara ini, begitu banyak provensi yang ingin memisahkan diri dengan negara ini karena ketidak puasaan bangsa tersebut terhadap pemerintah, seperti, Banda Aceh darussalam, dan papua yang baru-baru ini kita lihat berbagai media.
Hal tersebut merupakan problem terbesar dalam bangsa ini, bagaimana dengan pemerintah menyikapi solusi yang diterapkan oleh SLB (sekolah luar biasa), apakah mendukungnya atau bahkan acuh tak acuh dalam menyikapi hal tersebut, karena tidak hanya orang yang normal secara fisik maupun psikis yang harus di perhatikan tetapi orang yang mempunyai kekurangan perlu diperhatikan dalam menciptakan kesejahteraan bangsa ini.
Sungguh ironis jika bangsa ini tidak mempberdayakan SLB sebagai lembaga yang telah peduli terhadap kesejahteraan bangsa, karena begitu banyak anak-anak yang kurang normal secara fisik,tetapi dia mempunyai  keinginan dan kemampuan yang tidak tergali dalam dirinya,  sehingga tidak dapat mengembangkang potensi yang ada dalam dirinya.
Dengan adanya SLB bagai mana seorang anak kurang normal mampu mengembangkan potensi yang ada sebagai kesempatan dalam menunjukkan kemampuanya terhadap bangsa ini, karena suatu kekuranggan bukanlah suatu keniscayaan dalam mensejahterakan bangsa ini, dengan hal ini bagaimana dapat memberikan motifasi terhadap orang yang normal. Tidak hanya orang yang normal yang bisa berkarya tetapi orang cacat mampu menciptakan suatu karya,banyak kita temui suatu kerya yang ada dalam lingkungan kita, seperti contoh edmunt Hussell, meskipun dia hanya duduk diatas kursi roda tetapi dia mampu mengguncangkan dunia dengan pemikirannya.
Maka dari itu kekurangan bukanlah kendala dalam berkarya selagi ada keinginan dan semangat untuk menggali kemampuan dalam dirinya dan menunjukkan kepada halayak banyak bahwa tidak hanya orang yang normal yang dapat berkarya tetapi orang yang mempunyai kekurangan mampu menciptakan karya yang lebih bagus dari orang yang normal..

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking