Woensdag 29 Mei 2013


Mahasiswa, Almamater Tercinta

seorang mahasiswa sepatutnya menjaga kemuliaan nama almamater tercintanya, kebaikan sebuah almamater tegantung bagaimana seorang mahasiswa itu menjaga karakter dari almamater atau lembaga tersebut, menjaga nama baik suatu almamater adalah tanggung jawab seorang mahasiswa itu sendiri, karena baik buruknya suatu almamater tergantung bagaimana dinamika atau moral dari seorang mahasiswa itusendiri.
jamak ditemukan dalam lingkungan masyarakat, seorang pelajar menjaga nama baik almamaternya sampai-sampai berani mati-matin membela almamater pada waktu menimba ilmu di lembaga tersebut, tetapi ironisnya setelah selesai atau lulus dari lembaga tersebut lupa terhadap apa yang di dapat dari lembaga atau kampus yang dia cintai, bagai pepatah “bagai kacang lupa kulitnya”.
 sehingga patutkah dikatakan sebagai mahasiswa lulusan lembaga tesebut sementara dia lupa akan dedikasi dari pengajar-pengajar yang telah mengarahkan langkah dalam hidupnya,  sehingga sulit untuk mengtakan mahasiswa yang memang mahasiswa karena hanya ilmu yang didapat sementara penghargaan dan nilai kepedulian begitu tipis dalam dirinya, sehingga lupa akan almamater yang telah mendidiknya dan mendewasakannya.
Indonesia yang Berbadan Asing
Indonesia adalah negara yang kaya raya, baik dari sumberdaya alam, budaya, maupun sumberdaya manusia yang melimpah. Kalau kita melihat,  sudah hampir 67 tahun bangsa ini merdeka dari para penjajah, tetapi masih belum mampu mengevolisi kehidupan bangsa ini menjadi lebih sejahtera, aman, damai, dan sentosa.
Bangsa ini seakan enak dalam tidur panjangnya  tidak mau bangun dan melihat realitas yang telah menimpanya, yang ada hanya membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, itulah paradigma bangsa ini.seandainya kita mau berfikir dan mendiskusikan problem-problem yang terjadi maka kita akan dapat meminit permasalah yang terjadi agar tidak menjadi kronis terhadap bangsa ini.
Kita lihat problem yang terjadi dalam perindustrian begitu banyak investor-invistor asing yang menanamkan modal di negara kita ini, seakan-akan negara kita ini anah negara yang tidak mampu dalam mengelola perindustrian tersebut sehingga masih membutuhkan intervensi dari negara lain, kita tidak mau mencoba untuk melaksanakannya dan meyakini apa yang kita lakukan, kita masih butuh sama orang lain, memang benar manusia tidak akan hidup sendiri dan masih bergantung pada orang lain, tetapi kalau kita kontekstualkan terhadap bangsa ini tidak sesuai sama sekali, bangsa ini manja tampa bantuan orang lain dia tidak mau berusaha dan mencobanya, sehingga hampir semua perusahaan terdapat investor asing yang menjadi pondasi keuangannya untuk menjaga eksistensi perusahaan tersebut, seakan-akan indonesia ini berjiwa indonesia tetapi berbadan asing.
Sungguh nampak negara ini dikuasai oleh negara asing, dengan di bukanya pasar global sehingga berefek kurang baik terhadap bangsa ini, mulai dari perindustrian, pertambangan, pasar, dan yang masih hangat-hangatnya adalah RSBI (Rancangan Sekolah Berbasis Internasional) yang terdapat kontrofersi antara yang prodan yang kontra terhadap adanya RSBI ini, dalam pendidikan indonesia mampu besaing dalam tingkat dunia yang berada pada peringkat 70, akan tetapi lembaga tersebut bukan murni milik negara indonesia melainkan milik negara asing yang ada di indonesia, terus pertanyaannya; seperti apakah wajah indonesia yang sebenarnya?

Secara tidak langsung kita dijajah oleh bangsa asing menski tidak secara fisik, tetapi dari bAerbagai dimensi, baik itu yang barsifat riil atau abtrak. Dengan masuknya berbagai barang impor dari bangsa lain seakan-akan kita dimanja untuk hidup yang praktis yang didalamnya terselubung suatu kepentingan bangaimana bangsa ini hanyut dalam hal tersebut, sehingga kontrol diri tidak diperhatikan maka yang terjadi budaya kebebasan yang kita konsumsi.   
IMPLEMENTASI ASWAJA DALAM PERGERAKAN

“hendaknyta organisasi yang akan dibentuk itu benar-benar dapat diandalkan sebagai kader NU, dan menjadi mahasiswa yang berprinsip ilmu untuk diamalkan begi kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan sendiri” (KH. Dr. Idham Cholid)
Pergerakan mahasiswa ialam Indonesia (PMII) merupakan salah satu eleman mahasiswa yang terus bercita-cita mewujudkan indonesia kedepan menjadi lebih baik. Pada awalnya berdirinya PMII sepenuhnya berada dibawah naungan NU, PMII terikat dengan segala garis kebijakan partai induknya, kemudian pada kongres tahun 1973 di ciloto, jawa barat, diwujudkanlah manifestasi independen PMII.
Namun betapapun PMII mandiri, ideology PMII tidak terlepas dari faham Ahlussunnah Waljama’ah yang merupakan cirri khas NU. Ini berarti secara cultural-ideologis, PMII dengan NU tidak bisa dipisahkan. Ahlussunanah waljamaah merupakan benang merah antara PMII dan NU. Dengan ASWAJA PMII menbedakan diri dengan organisasi lain. Keterpisahan antara PMII dan Nu pada perkembangan terakhir ini lebih tampak hanya secara organisatoris formal saja. Sebab keterikatan moral dan kesamaan beckground pada hakikat keduanya susah untuk direnggangkan.
Dengan kemandiriannya PMII mempunyai nilai dasar pergerakan yang deijadikan landasan pergerakan dalam ranah social, ekonomi, budaya, dan politik. Adapun nilai yang dimaksud adalah  tauhid (keyakinan transedental) yang merupakan sumber nilai yang mencakup pola hubungan antara manusia dengan Allah (Hablu min allah), hubungan manusia dengan sesame manusia ( Hablu min al-nas), dan hubungan manusia dengan Alam ( Hablu min al-alam).
PMII dengan penuh kesadaran bahwa menyeimbangkan ketiga pola hubungan ini merupakan totalitas keislaman yang landasannya adalah wahyu Allah adalah Al Qur’an dan hadis Nabi. Dalam memahami dan mewujudkan keyakinan itu PMII telah memilih Ahlussunnah wal jama’ah (Aswaja) sebagai manhajul Fikr dan manhajul harokah, selaiin sebagai bagian dari bangsa Indonesia, maka PMII menyadari Pancasila adalah falsafah hidup bangsa, yang penghayatannya dan pengamalannya seiring dengan implementasi dari nilai-nilai ASWAJA: tawazun, tawassut, tasamuh, dan ta’adul.
Namun sayangnya, bebrapa nilai Aswaja sering disalah pahami atau dimanipulasi oleh kalangan-kalangan tertentu dalam NU maupun PMII sendiri yang memunculkan distorsi dan penggerogotan internal atas kekuatan organisasi dan kader. Maka dari itu perlu pemaknaan atas intisari nilai-nilai Aswaja dengan mencari dimensi-dimensi kritis dari Aswaja Ke-NU-an dalam menawarkan alternatif terhadap mertodologi pemikiran keislaman baik kalangan modernis maupun neo-modernis.
Dengan demikian, kita tidak cukup hanya menguasai khazanah keislaman klasik, tetapi juga mempelajari secara aktif perkembangan pemikiran kontemporer. Penguasaan atas duan khazanah ini akan memungkinkannya melahirkan suatu kombinasi respons yang actual terhadap perubahan, tanpa kehilangan kemendalaman atas warisan klasik yang menjadi cirri khas sebagai seorang nahdliyy.
Dengan demikian, sangatlah penting bagi kita untuk mengimplementasikan dari kombinasi respon yang actual terhadap perubahan. Pergerakan mahasiswa islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi gerakan mahasiswa, menganggap bahwa kader-kadernya seharusnya dapat memahami bahkan membaca kampus mereka sendiri.
Penting bagi mahasiswa sebagai Agen perubahan dalam ranah lingkungannya (masyarakat kampus) serta masyarakat sipil untukmemahami pola karakter dan tingkahlaku mereka, guna mengadvokasi dalam segala bentuk kebijakan yang tidak berlandaskan atas nilai keadilan bagi semua kalangan.
Maka dari itu PMII sebagai organisasi gerakan intra kampus yang tidak hanya melakukan poengawalan terhadap persoalan luar kampus, akan tetapi sebagai organisasi yang menjadi afiliasi kaum mahasiswa, maka menjadi sebuah keniscayaan untuk melakukan pengawalan terhadap kebijakan pemimpin kampus yang tidak memihak terhadap mahasiswa, salah satu strateginya adalah mampu memegang pos-pos penting dalam organisasi kampus.
 









Pentingnya Kehidupan yang berbasis kesadaran
Oleh; Mohammad Ali
“Janganlah melihat masalalu dengan penyesalan, jangan juga melihat masa depan dengan ketakutan, tetapi lihatlah realitasdengan penuh kesadaran”  (james Thuber)
Dengan berkembangnya zaman yang semakin modern dan canggih, kehidupan semakin mapan dan problem kahiduapan sosialpun semakin kompleks,tetapi kesadaran dan hormat menghormati antara yang tua dan yang mudah danantarayang satu dengan yang lainsudah terkikis dari sendi kehidupan,sehingga menuju zaman yang akan membentuk karakter manusiayang berkarakter individual dan sabjektif, sungguh ironis kehidupan ini, apabila kita sebagai bangsa sang sangat menjunjung tinggi nilai kesatuan dan persatuan tidak melestarikannya dengan budaya-budaya moralitas yang sudah banyak tergeser dari kehidupan  bermasyarakat.
Begitu kuat pengaruh kaum modernis mengkonstruk bangsa ini, sehingga dengan berbagai ide dan tranfosmasinya, mampu merubah karakter tunas bangsa menjadi karakter ala modernis ( pola pikir, gaya dll),sehinggamereka lebih membanggakan budaya orang lain dari pada budayanya sendiri.Kita lihat realitas pada saat sekarang, begitu banyakditemui dalam kehidupanbaik di perkotaan, maupun di pedesaan yang dikenal dengan orang paradoks(awam)telah terkontaminasi oleh cara berfikir dan gaya hidup kaum modernis yang membawa bangsa kepada hal yang kurang etis.
Begitu banyak budaya-budaya lokal yang sudah hilang darikehidupan ini, baik itu dari segi pakaian, bahasa, dan yang lain, akibat trand-trend yang disuguhkan oleh kaum modernis, sehingga berpengaruh kepada nilai kebangsaan dan nilai-nilai kemanusiaan, kalau berfikir sejenak, melihat contoh yang jamak terjadi dalam bangsa adalah masalah trend dan pergaulan, seorang anak muda yang dulu trend dengan berambut pendek dan difoni yang sudah menjadi gaya dalam kehidupansehari-harinya mudah di rubah oleh paradigma modernis dengan gaya hidupan ranbut di berdirikan, di semir, di punk, dan lain-lain.
Melihat dinamikadalam masyarakat begitu bebas pergaulan yang terjadi dalam masyarakat sehingga semakin tidak kenal arah, halnya laki-laki dan perempuan yang jalan bareng tampa ikatan perkawinan (mahrom) enak-enakan tampa ada teguran dari seorang masyarakat, sehingga hal tersebut menjadi tradisi yang telah menggeser nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan.Bagaimana kalau tunas bangsa sudah terkena penyakit pada usia dini, maka semakin tua karakter anak bangsa akan menjadi lebih kronis, sehingga kontrol sosial dalam kehidupan itu perlu di tegakkan agar bangsa ini selalu intropeksi tentang tingkahlaku yang  dilakukannya, apakah itu baik atau buru.
Mengutip daribuku “Manusia, penciptaan,tugas, dan tujuan“ karangan KH.Fathullah.di jelaskan bahwa “ seorang manusia dikatakan manusia apabila dia menyadari kesalahannya”, kalau refleksikan fragmen di atas, patutkah kita dikatakan manusia, sementara kita lebih memikirkan dunia dari pada akhirat, sehingga lupa untuk menyadari atau intropeksi diri. Yang banyak terjadi dalam lingkungan masyarakat adalah mengintropeksi kesalahan orang lain, hal ini di larang oleh agama, dalam Al-Qur’an di jelaskan “hasibu amfusakum  kobla antuhasabu” jadi kita perlu untuk menelaah diri sebelum menelaah kesalahan diri orang lain, hal ini kadang tidak pernah terpikir dan tidak pernah di implementasikan dalah kehidupan.
Seorang filosof mengatakan “guru terbaik adalah pengalaman”, kalau kita menyelami dari fragmen tersebut begitu luas interpretasi dari kata-kata yang hanya empat kata, tetapi maknanya mencakup begitu banyak sendi kehidupan, kesadaran dalam melihat suatu realitas sangatlah urjen untuk di jadikan landasan dalam menjalani suatu kehidupan, banyak manusia masih melakukan aktivitas diri yang jauh dari kesadaran, sehingga hal tersebut menjadi dampak yang buruk bagi dirinyalebih-lebih pada diri orang lain, contoh dalam kehidupan seperiti halnya anak muda sekarang yang banyak mereduksi pola pikir dan gaya kehidupan yang baginya sangat trend adalah pergaulan yang kurang baikyang menimbulkan dampak negatif, baik pada dirinya dan orang lain seperti minuman keras, Narkoba, Ganja, dan lain sebagainya.
Kalau bangsa sudah terkontaminasi dengan trend-trend dan pola pikir kaum modernis, maka bangsa akan hancur, karena kemajuan suatu bangsa tergantung kepada karakter bangsa itu sendiri (Ahmad Sangkono; dalam seminar pendidikan), jangan salahkan jika pada saat sekarang suda bangsa sudah teracuni oleh kehidupan barat,sehingga tidak dapat di elakkan bangsa ini akan saling serang antara yang satu dengan yang lain, secara tidak langsung kita akan kembali ke zaman masa lalu, siapa yang kuat dia yang dapat.

Jangan biarkan tunas itu tumbuh tampa di pelihara dan di ayomi, karena akan mudah terkena penyakit, tunas itu tumbuh dengan baik karena pemeliharannya yang optimal dan efektif, dan jangan salahkan tunas itu tumbuh tidak  sehat karena kurangnya pemeliharaan dan perawatanya, suatu negara adalah bagai mana dia dapat mendidik warga negaranya untuk jadi baik, bukan malah memihak kepada kaum elit yang akan membutakan suatu kenyataan hidup antara yang baik dan yang buruk, sehingga kadang dalam pemilahannya menjadi kabur antara antara yang salah dan yang benar, maka dari itu suatu kesadaran perlu dalam menelaah suatu realitas dengan akal murni bukan dengan akal yang penuh dengan cinta dan benci.
BUMI PERTIWI,
UNTUK KESEJAHTERAAN BANGSA

Manusia diturunkan kebumi oleh Tuhan adalah sebagai kholofah fil ardi, maka manusia mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan kehidupan dimuka  bumi ini dengan menjaga kesetabilan alam dengan sebaik-baiknya. Keadaan bumi tergantung dari manusia  dalam menjaga dan melestarikannya, apabila manusia itu menjaga kesetabilan alam dengan baik, maka yang akan tercipta adalah suatu kemasalahatan yang akan dia peroleh dari alam tersebut, tetapi sebaliknya, apabila manusia tidak menjaganya- merusaknya, maka kemodarotan- bencana yang akan diberikan oleh alam kepadanya, seperti, yang sudah terjadi di negara kita yaitu tragedi tsunami yang terjadi di aceh pada tahun 2006 kemaren, dan meletusnya gunung merapi di jogjakarta, sehingga memakan banyak korban. Diantaranya yang jadi korban adalah jurugunci gunung tersebut yaitu Mbah Marijan.
Dengan melihat beberapa bencana yang telah melanda bangsa ini, seharusnya kita sebagai manusia yang diberi akal oleh tuhan, sadar dan memperbaiki tingkah laku yang selama ini kita lakukan, yaitu penebangan hutan secara liar, perambahan, penambangan, dan lain-lain. Kompas. Rabu (18/04) indonesia memiliki 43 taman nasional darat dengan luas kawasan mencapai 12,3 juta hektar. Namun sekitar 30 persen di antaranya dalam kondisi rusak parah akibat perambahan. Dari Data Dinas Pertambangan dan Energi provinsi aceh menyebutkan, ada 40 perusahaan pertambangan yang mengantongi izin usaha diwilayah nagan raya, aceh selatan, ach barat daya, dan singkil. Lokasi penambangan 40 perusahaan itu merusak kawasan ekosistem louser (KEL) dizona hutan lindung.
Dengan problem tersebut, bagaimana manusia dapat merefleksikan dan mengkaji ulang tentang kemaslahatan dan kemodarotan dari suatu usaha dalam meningkatkan taraf ekonomi nagara yang lebih baik, seperti adanya berbagai perusahaan penambangan yang ada di negara kita ini, bukannya kita menciptakan suatu kesejahteraan bagi bangsa ini, malah yang ada kesengsaraan yang terjadi, lebih-lebih kepada masyarakat bawah, secara materi denagn adana perusahaan penambangan akan menambah devisa negara dari perusahan tersebut, sehingga pemerintah lebih mementingkan materi dari pada  kesejahteraan rakyatnya, maka akan tercipata masyarakat yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin, sungguh ironis jika kekayaan bumi pertiwi ini hanya dinikmati oleh segelintir orang, teruspertanyaanya mampukah negara ini menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya, hal ini merupakan cita-cita dari para founding father bangsa ini.
Seandainya kita mencontoh kehidupan orang-orang cina dalam melestarikan alam ini, niscaya kesetabilan dan kemaslahatan alam ini akan terjaga,  orang cina cenderung menjaga dan menyatukan dirina dengan alam dari pada menguasai alam tersebut, sehingga nilai kepemilikan terhadap alam menjadi suatu nilai yang tertanam dalam diri orang cina, jadi kemaslahatan yang dia prioritaskan dari pada suatu kemoderotan yang akan menyebabkan suatu kehancuran terhadap alam ini.
Apakah kita sebagai warga negara indonesia akan tinggal diam melihat keadaan alam yang sudah dirusak oleh orang-orang tidak bertanggung jawab, apakah kita hanya akan diam dan meratapi alam kita yang sudah dijadikan lahan  penghasil ekonomi terbesan ini hanya dapat di nikmati oleh pemerintah dan perusahaan-perusahaan asing yang telah memanfaatkan alam kita ini, secara tidak sadar kita telah ditipu oleh para oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab ini.
  

KEKURANGGAN BUKANLAH  SUATU KENISCAYAAN DALAM HIDUP

Suatu kekurang yang terdapat dalam diri seseorang bukanlah suatu keniscayaan dalam menunjukkan suatu potensi yang terdapat dalam diri seseorang, seperti  yang  tersurat  dalam koran kompas 12/04/2012, pemanfaatan video call sebagai sosuli untuk  alat komunikasi bagi seorang siswa tunawicara, agar seorang  siswa tunawicara dapat berkomunikasi  menggunakan bahasa isyarat dengan teman atau gurunyamelalui telpon seluler  yang dilengkapi dengan fasilitas Video Call,  untuk mempermudah peserta didik dalam berinteraksi dengan kawan sekelas atau sesama tunawicara yang lain.
Banyak di temui dalam lingkungan kita, seorang tunawicara didiskriminasikan karena kekuranggannya dalam berinteraktif dengan masyarakat disekitarnya, ini merupakan hal yang tidak seharusnya dilakukan oleh seseorang sebagai bangsa yang berpegang teguh terhadap nilai-nilai luhur pancasila. Kita tidaklah harus mementingkan diri sendiri dalam menjalani hidup ini,  bagaimana seorang bangsa mampun saling menghargai dan menghormati terhadap sesama bangsa, agar terjadi kesejahteraan terhadap bangsa sebagaimana yang diharapkan oleh funding father  bangsa ini.
Asas pancasila hanya dijadikan pusaka saja, tetapi bangsa kita tidak mampu mengamalkan nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Kalau kita melihat kehidupan desawarsa ini, paradigma pemikiran bangsa telah terkontaminasi oleh kaum modern, sehingga lupa akan nilai luhur suatu bangsa.  Yang terjadi timur leste, menurut analisis penulis hal itu terjadi karena seorang pemimpin mendiskriminasikan provensi tersebut, sehingga terjadi gejolak untuk memisahkan diri dari negara ini, begitu banyak provensi yang ingin memisahkan diri dengan negara ini karena ketidak puasaan bangsa tersebut terhadap pemerintah, seperti, Banda Aceh darussalam, dan papua yang baru-baru ini kita lihat berbagai media.
Hal tersebut merupakan problem terbesar dalam bangsa ini, bagaimana dengan pemerintah menyikapi solusi yang diterapkan oleh SLB (sekolah luar biasa), apakah mendukungnya atau bahkan acuh tak acuh dalam menyikapi hal tersebut, karena tidak hanya orang yang normal secara fisik maupun psikis yang harus di perhatikan tetapi orang yang mempunyai kekurangan perlu diperhatikan dalam menciptakan kesejahteraan bangsa ini.
Sungguh ironis jika bangsa ini tidak mempberdayakan SLB sebagai lembaga yang telah peduli terhadap kesejahteraan bangsa, karena begitu banyak anak-anak yang kurang normal secara fisik,tetapi dia mempunyai  keinginan dan kemampuan yang tidak tergali dalam dirinya,  sehingga tidak dapat mengembangkang potensi yang ada dalam dirinya.
Dengan adanya SLB bagai mana seorang anak kurang normal mampu mengembangkan potensi yang ada sebagai kesempatan dalam menunjukkan kemampuanya terhadap bangsa ini, karena suatu kekuranggan bukanlah suatu keniscayaan dalam mensejahterakan bangsa ini, dengan hal ini bagaimana dapat memberikan motifasi terhadap orang yang normal. Tidak hanya orang yang normal yang bisa berkarya tetapi orang cacat mampu menciptakan suatu karya,banyak kita temui suatu kerya yang ada dalam lingkungan kita, seperti contoh edmunt Hussell, meskipun dia hanya duduk diatas kursi roda tetapi dia mampu mengguncangkan dunia dengan pemikirannya.
Maka dari itu kekurangan bukanlah kendala dalam berkarya selagi ada keinginan dan semangat untuk menggali kemampuan dalam dirinya dan menunjukkan kepada halayak banyak bahwa tidak hanya orang yang normal yang dapat berkarya tetapi orang yang mempunyai kekurangan mampu menciptakan karya yang lebih bagus dari orang yang normal..
Pendidikan Karakter dalam Bingkai Kurikulum
Oleh; Muhammad Ali

Pendidikan dalam arti besar adalah setiap tindakan atau pengalaman yang memiliki efek formatif pada pikiran, karakter atau kemampuan fisik individu. Pendidikan merupakan hal penting dalam kehidupan dan merupakan suatu yang tidak bisa dilepas dari dimensi kehidupan manusia,  Dimanapun dan kapanpun pendidikan akan menjadi kebutuhan primer bagi manusia. Karena tanpa pendidikan manusia akan kesulitan dalam menentuan arah hidupnya.
Pendidikan merupakan jati diri suatu negara, karena suksesnya suatu negara dapat dilihat dari kualitas pendidikan dan juga keberhasilan pemerintahan dalam mencetak generasi yang cerdas, dan siap berkompetisi dalam pentas kehidupan. Sebagai mana tercantum dalam pembukaan UUD negara republik indonesia dalam alinea ke 4 yang berbunyi “mencerdaskan anak bangsa”. Berangkat dari itu, pemerintah terus melakukan perbaikan sistem pendidikan untuk mewujudkan cita-cita bangsa yang mulia. namun,dalam mewujudkan cita-cita tersebut tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Kalau kita melihat pendidikan yang ada di indonesia ini sudah terkontaminasi oleh dunia barat, akan tetapi melihat pencapaian dari kebijakan tersebut masih dianggap belum sesuai dengan yang dicita-citakan.  kita melihat perkembangan kurikulum yang berkembang di indonesia sesuai dengan dinamika perubahan zaman. Sejak merdeka hingga sekarang, kurikulum mengalami perubahan yang bisa dilihat atau ditandai dengan tahun diterbitkannya kurikulum tersebut. kurikulum 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 1994+sulemen 1999, 2004 (KBK) dan 2006 (KTSP). Perubahan tersebut merupakan konsekuensi logis dari terjadinya perubahan sistem politik, sosial budaya, ekonomi, dan iptek dalam masyarakat berbangsa dan bernegara. Kurikulum sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis sesuai dengan tuntutan dan perubahan zaman. Semua kurikulum pendidikan nasional dirancang berdasarkan landasan yang sama, yaitu pancasila dan UUD 1945. Perbedaannya pada penekanan pokok dari tujuan pendidikan serta pendekatan dalam merealisasikannya.
Sejatinya, kurikulum apapun namanya sudah memiliki karakter tersendiri. Issu kurikulum pendidikan berkarakter muncul karena ditengarai pendidikan di indonesia telah kehilangan karakter, seperti  pada desawarsa ini begitu banyak kasus-kasus yang kita temui dalam kehidupan bangsa ini yang sudah tidak sesuai dengan norma etika, lebih-lebih agama, akibat dalam mengartikan hak asasi manusia yang berlebihan. Contoh di papua seorang murid yang di pukul oleh gurunya dan melaporkan ke pihak sekolah sehingga seorang guru mendapat hukuman juga yakni dengan di tampar juga oleh siswanya. Indikasi krusial tersebut menunjukkan bahwa dekadensi moral di indonesia sudah dikatakan parah, hal ini dikarenakan  diantaranya: 1)  semakin degredasinya kerakter generasi muda. 2) lunturnya budaya nasional. 3) semakin terpuruknya kehidupan berbangsa dan bernegara. 4) kurang terakomodasinya pendidikan karakter bangsa dalam pendidikan formal, non formal, dan in formal. 5) tentang era globalisas. 6) kurang efektifnya implementasi amanat undang-undang.
Pendidikan karakter menjadi suatu sistem di satuan pendidikan, yang terintegrasi di dalam proses pembelajaran, kegiatan keseharian disekolah, termasuk kegiatan kurikuler dan atau ekstra kurikuler. Banyak sekolah yang sudah mengembangkan pendidikan karakter dengan sukses dan ternyata dapat meningkatkan prestasi belajar siswa. Contoh sekolah di pondok pesantren mampu menumbuhkan kembangkan karakter peserta didik. Yang mana masih menekankan pendidikan tradisional dan melengkapinya dengan pendidikan modern, yaitu metode sorogan dan bandongan dan juga memanfaatkan fasilitas yang ada seperti; komputer, dal lain sebagainya. Ini adalah budaya sekolah melalui pembiasaan dalam kehidupan keseharian dan teladan ustad (guru) sebagai kunci sukses.
Kalau kita melihat dunia pendidikan ditanah air, kita telah mengenal dua jenis pendidikan, yang di antaranya adalah pendidikan yang dilakukan secara tradisional dan pendidikan yang dilakukan secara modern. Pendidikan tradisional merupakan sistem pendidikan tradisional yang lebih banyak menekankan nilai-nilai moral bangsa dan tatanan-tatanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun dijaman sekarang ini pendidikan tradisional sangat jarang di digunakan, hal ini disebabkan karena adanya kemajuan jaman dan kecanggihan-kecanggihan teknologi pada jaman sekarang ini. Misalnya komputer, dengan adanya computer siswa cenderung mengambil behan-behan tugas dari internet ketimbang dari buku-buku panduan yang ada, disini kita sudah mempunyai gambaran bahwa di negara kita ini pendidikan yang berkembang adalah pendidikan modern, hal ini menyebabkan generasi bangsa kita lebih cenderung pada keinstanan suatu hidup, sehingga hidupnya sudah terkontaminasi oleh tradisi orang-orang barat yang bebas nilai.
Pendidikan modern merupakan sistem pendidikan dimana pendidikan ini lebih menekankan kebebasan, kemandirian dan pengembangan kreatifitas individu siswa. Didalam hal ini seorang guru hanya sebagai fasilitator  dan tidak diperbolehkan melakukan hukum fisik, disamping itu peserta didik juga dituntut untuk menjadi pelaku pendidikan, yang artinya peserta didik dituntut harus aktif, yaitu disamping mendengarkan pengarahan dari guru, peserta didik juga dituntut untuk dapat memanfaatkan perkembangan-perkembangan media pembelajaran. Seperti halnya internet, dan lain sebainya. Dari hal ini kita sudah mendapat gambaran bahwa dekadensi karkter bangsa kita terjadi akibat kebesan dan dalam menggunakan teknologi tampa kontrol, sehingga dengan tidak sadar lebih mementingkan dunia hiburan dari pada sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. ( Fauzi, 2010 ).
pada desawarsa ini banyak anak didik yang hanyut dalam dunia teknologi, seperti; cettingan, facebookan, dan juga ada yang lebih arogan yaitu peserta didik yang lebih kepada hal yang tidak etis seperti; mengaploud vidio, foto, dan sebainya. Dengan melihat realitas sosial yang seperti ini setiap orang mempunyai asumsi yang berbeda mengenai kecanggihan teknologi saat sekarang ini, ada yang menanggapi secara positif tingking dan ada juga yang menyikapinya secara Negatif.
Pada tahun ini, mentri pendidikan nasional dan kebudayaan (kemendikbudnas), sudah mencanangkan penerapan pendidikan karakter di semua jenjang pendidikan, baik dari tingkat SD, SMP,SMA, sampai perguruan tinggi. Pendidikan karakter juga mampu masuk disemua lembaga pendidikan, baik pendidikan umum maupun pendidikan agama. Karakter harus dimiliki setiap peserta didik, karena mereka merupakan generasi bangsa.
Munculnya wacana pendidikan karakter, hal ini dikarenakan ada indikasi bahwa pendidikan diindonesia lebih mengutamakan aspek kognitif (intelektual), pada hal aspek afektif dan psikomotorik juga sngat penting terhadap peserta didik, dan ketiga aspek ini merupakan Trisula Pendidikan yang harus berjalan seirama dan satu suara.
“manusia adalah jiwanya, bukan kemampuannya yang berbicara didepan umum”, Socrates. Disinilah titik terang bahwa pendidikan karakter, terutama di tunjukkan pada pemeliharaan jiwa. Karena jiwa merupakan salah satu pembeda dari manusia. Dengan jiwa kita bisa berfikir, bertindak dan menegaskan nilai-nilai moral dalam kehidupan.
Pendidikan bagi negara yang berkembang, seperti indonesia, lebih mengutamakan penerapan ilmu pengetahuan. Karena berharap untuk mengejar ketertinggalan terhadap negara yang telah maju. Pendidikan kita tidak pernah atau mungkin lupa memperkuat kecerdasan spiritual, padahal kecerdasan ini yang harus tertanam kuat dalam diri anak didik adalah kecerdasan spiritual agar anak didik dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk sehingga karakter anak bangsa sesuai dengan nilai-nilai luhur para pendahulu.
Kalau kita menelaah kembali kurikulum yang ada, pendidikan agama sudah jauh dari harapan dalam membentuk peserta didik yang berkarakter, lebih mementingkan pendidikan umum yang didahulukan, sehingga pijakan dalam hidup (religius) sudah ditinggalkan, akibatnya banyak orang pintar yang karakternya kurang mapan dari pada orang yang biasa tetapi dapat menghargai dan menghormati sesama (adil), Dan ini salah satu wujud nyata dari pelaksanaan untuk  membentuk manusia yang berkarakter adalah harus  melalui pendidikan karakter di semua lembaga pendidikan, baik dari tingkat SD, SMP,SMA, sampai perguruan tinggi. Sedangkan kecerdasan emosional dan rohani tidak pernah disentuh, sehingga banyak orang yang subur jasmaninya tetapi  kering hatinya dan berakibat pada pragmatisme.
Kalau kita melihat pada saat sekarang ini, lembaga pendidikan hanya mampu mencetak lulusan yang hafal teori-teori pelajaran, dan menerima selembar surat tanda tamat belajar dengan nilai tinggi. Namun, tidak pernah berfikir mencetak manusia yang bermoral dan beriman, jujur, disiplin, serta bertanggung jawab. tak ayal lagi kalau kita menemukan orang yang lebih mementingkan dunia dari pada akhirat. Seperti yang marak pada saat sekarang, adalah masalah koropsi, orang yang korupsi bukan orang yang bodoh, tetapi orang yang kurang dalam pengetahuan agamanya lebih pada pengetahuan dunia, sehingga  jujur, disiplin, serta bertanggung jawab di abaikan. Imam Mawardi mengatakan; “orang yang korupsi itu bukan orang yang bodoh, dia orang yang pintar-pintar, hanya saja ilmunya yang tidak barokah”.
Sesuai dengan fungsi pendidikan dalam UU sistem pendidikan nasional (UU Sisdiknas) No. 20 Tahun 2003, pasal 3. Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang maha Esa, ber ahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mendiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pola pendidikan pesantrenlah yang  khas dan konsen dalam pengembangan pendidikan karakter, yang  merupakan variabel terpenting dalam pendidikan. Pendidikan karakter versi kemendiknas meliputi: penanaman nilai-nilai keagamaan dan relegiusitas, nilai dasar ysng terkandung dalam dasar dan falsafah negara pancasila dan UUD 1945, nilai kemasyarakatan berupa nilai moral, etika, dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat setempat, serta nilai kenegaraan yang menyangkut kecintaan terhadap tanah air dn bangsa. Semua komponin dan penjelasan diatas secara praktis telah banyak diterapkan dalam pendidikan pesantren.
kalau kita meniru konsep pemerintahan di cina, pada zaman Konghucu, disitu pemerintahan sudah menata rapi konsep-konsep pemerintahan yang akan di canangkan dalam negara tersebut 25 tahun sebelumnya, sehingga pemerintahan selanjutnya tinggal meneruskan kembali kosep-konsep yang sudah di rencanakan oleh orang-orang sebelumnya sehingga tidak salah kalau di cina itu maju baik dari segi ekonami,sosial, politik, dan budaya.